RESUME KEGIATAN BULAN MARET PPSDMS REGIONAL IV SURABAYA
OLEH: TRI NUR ROMADHON
TPD
Sebelum kita membahas lebih jauh tentang judul di atas, ada baiknya kita memahami tentang arti pemimpin dan kepemimpinan itu sendiri. Pemimpin menurut banyak versi diartikan sebagai orang mampu untuk memberikan pengaruh di dalam suatu komunitas tertentu dan dianggap menjadi peran penting yang mendukung eksistensi komunitas tersebut. Sedangkan kepemimpinan atau sering disebut leadership
Seperti halnya di Indonesia diperlukan suatu tipe pemimpin yang tidak hanya mengutamakan nilai kuantitatif saja akan tetapi yang paling penting adalah bagaimana kualitas dari pemimpin tersebut. Di dalam tulisan ini dibahas tentang konsepsi pemimpin muda bagi Indonesia yang mampu menjawab tantangan global. Dimana yang dimaksud pemimpin muda bukan dimaknai secara etimologi sebagai pemimpin yang berusia muda. Kata muda ini tidak diartikan untuk menunjukkan usia. Akan tetapi kata muda lebih tepat jika menginterpretasikan nilai-nilai kepemimpinan yang bersifat muda artinya kepemimpinan itu dijalankan dengan penuh semangat, energik, visioner dan kuat semata-mata bukan untuk tujuan tertentu melainkan demi terwujudnya cita-cita bersama. Bangsa Indonesia ini telah berulangkali mengalami berbagai nasib berkaitan dengan kepemimpinan karena secara otomatis negara ini dipimpin oleh presiden yang merupakan pemimpin bangsa. Pemimpin yang didambakan oleh negeri bukanlah pemimpin yang hanya akomodatif, tetapi jauh lebih penting jika kita memiliki pemimpin yang tegas, semangat dan kuat.
Dalam tulisan ini, konsep kepemimpinan muda yang dicetuskan adalah Powerful and Contributive Actions Young Leader digambarkan antara perpaduan dari konsep kepemimpinan The Five Disciplines of Learning, Level Five Leadership dan Healty Management Paradigm yaitu seperti berikut:
Powerful and Contributive Actions Young Leader
1. The Five Disciplines of Learning
Systems Thinking.
Kerangka konseptual yang melihat setiap fenomena sebagai bagian dari sistem yang utuh, dan karenanya memiliki hubungan timbal-balik dengan bagian-bagian yang lain dalam sistem; tidak terjebak melihat fenomena tersebut sebagai bagian yang berdiri sendiri.
Personal Mastery.
Kemampuan untuk terus-menerus mengungkap dan memperdalam visi pribadi, memfokuskan energi kita, memperkokoh kesabaran, dan melihat realitas secara objektif. Hal ini merupakan fondasi spiritual dari organisasi pembelajar.
Mental Models.
Konsep, asumsi, kerangka berpikir yang kita gunakan dalam memahami dan memaknai dunia di luar diri kita.
Shared-Vision.
Team Learning.
Dimulai dari membangun dialog dan mengenali pola interaksi yang dapat menghambat learning, seperti sikap defensif
2. Level Five Leadership
Level 5 Leadership : Pemimpin Pembelajar
Kajian Islam Kontemporer
Kajian Islam Kontemporer kembali disampaikan oleh Ustad Muhammad Ihsan. Seperti pada pertemuan sebelumnya, KIK kali ini masih membahas tema fikih prioritas. Pada awal sesi Ustad Ihsan membahas kejadian turunnya wahyu pertama bagi Rasulullah yaitu Surat Al-Alaq ayat 1-5. Inti dari diturunkannya surat tersebut adalah agar manusia membaca tanda-tanda kebesaran Allah sehingga kemudian mampu melakukan kewajibannya sebagai hamba-Nya maka dari sini kita mengetahui urgensi ilmu (berilmu sebelum beramal). Ilmu sebagai dasar dalam melakukan suatu amal sehingga amal yang dilakukan tetap berada dalam kebenaran dilihat dari segala aspeknya. Sebaliknya, amal yang dilakukan tanpa berilmu akan lebih banyak membawa kemudharatan karena besar kemungkinan sesuatu tidak diletakkan pada tempatnya. Sayang sekali kajian ini terlaksana dalam waktu yang terbatas karena Ustad Ihsan harus menangani amanah lain.
Training Jurnalistik
Bapak Sapto Waluyo membawakan tema Cara Mengembangkan Gaya Penulisan. Suatu tulisan bias dianalisis gaya penulisannya (pola pengembangan kalimat dan paragraf, penggunaan kata, dll) dan dari analisis tersebut bias diketahui karakter sang penulis. Pak Sapto kemudian menunjukkan hasil analisis beliau terhadap beberapa tulisan hasil karya peserta PPSDMS angkatan ketiga. Setiap penulis mempunyai gaya tersendiri yang merupakan hasil pengalamannya yang terus terbentuk menjadi suatu karakter penulisan.
Studi Pustaka
Buku yang dibedah dalam studi pustaka kali ini adalah “21 Kualitas Kepemimpinan Sejati” karangan John C. Maxwell setelah pada pertemuan sebelumnya juga membahasn salah satu buku John C. Maxwell yaitu “Mengembangkan Kepemimpinan dalam Diri Anda serta Lingkungan”. Karena keterbatasan waktu, Pak Sapto tidak membedah setiap bagian dari 21 kualitas kepemimpinan yang dituliskan Maxwell. Selain itu beliau juga banyak berharap pada para peserta untuk aktif membaca buku secara rutin. Kualitas-kualitas tersebut harus dimiliki oleh seseorang hingga orang itu pantas disebut sebagai seorang pemimpin. Dalam buku tewrsebuyt juga dibahas cara (seni) memimpin sehingga kita akan benar-benar memahami artiu memimpin.
Dialog Tokoh
Dialog Tokoh kali ini menghadirkan Ibu Yulyani atau yang kerap dipanggil dengan Ummu Hamas. Beliau adalah anggota DPRD Kota Surabaya. Pada awal sesi moderator membacakan sejumlah prestasi dan kiprah beliau selama ini hingga mendapatkan banyak penghargaan. Beliau terkenal sebagai anggota dewan yang sangat tegas khususnya dalam masalah perijinan pemasangan reklame (beliau termasuk dalam komisi yang menangani sarana publik). Dalam dialog ini banyak membahas kiat-kiat sukses kehidupan sebagai seorang muslim yang berperan aktif dalam melayani umat. Diantaranya adalah optimal (bekerja seratus persen) dalam setiap aktifitas dan mempunyai hasrat/motivasi mendalam dalam hal yang kita tekuni. Kita semua harus bersungguh-sungguh dalam meraih mimpi-mimpi yang kita cita-citakan dan menikmati setiap prosesnya. Setiap kendala yang menghadang haruslah kita pandang sebagai tantangan. Jika tingkat keaktifan kita dalam melakukan suatu aktifitas naik turun tak menentu maka kiatnya adalah menjaga momentum dengan baik sehingga semangat tidak turun. Kita harus melakukan itu semua dengan rasa cinta dan bahagia dalam hati kita. Kesuksesan tidak diraih dengan mudah namun kita harus yakin bisa meraihnya dengan doa dan usaha maksimal, itulah setidaknya pesan yang dapat kita tangkap dari apa yang disampaikan Bu Yulyani.
Diskusi Pasca Kampus
Pembicara dalam Diskusi Pasca Kampus kali ini adalah Bapak Aries Sulisetyono, Ph.D yang berprofesi sebagai dosen di Fakultas Teknik Perkapalan ITS Surabaya. Pembahasan yang menjadi fokus diskusi ini adalah mengenai muslim dan iptek. Pembahasan pertama adalah tinjauan sejarah sains umat Islam di masa lampau. Alur sejarah perkembangan iptek umat Islam dibagi menjadi empat tahapan yakni (1) ekspansi pada masa pemerintahan Umar bin Khattab ke Afrika Utara yang diduduki Romawi Timur sehingga bersinggungan dengan budaya luar Eropa, (2) penerjemahan sporadis dan besar-besaran karya-karya Yunani hingga masa dinasti Umayyah, (3) masa karya yang luar biasa di mana muncul banyak ilmuwan-ilmuwan Islam dengan bebagai disiplin ilmu pada abad kedelapan hingga abad kelimabelas, (4) masa tua/kemunduran ilmu pengetahuan pada masa Utsmani abad kelimabelas ketika terkungkung dalam kemewahan dan kekuasaan dan Eropa mulai berkembang pesat. Kemudian beliau menunjukkan kelemahan Indonesia dalam kemajuan iptek, beliau menyoroti ketidakseriusan pemerintah selama ini terhadap riset dan pengembangan iptek padahal dua hal tersebut merupakan modal utama untuk bersaing dalam kompetisi global. Indonesia hari ini membutuhkan industrial research dan university research. Tantangan dakwah di bidang sains dan teknologi yaitu: ketersediaan, mobilisasi vertikal, dan pelayanan umat. Untuk menghadapi hal itu maka kita harus menjadi muslim berprestasi dengan membangun lingkungan riset dan karakter periset.